Mengenal 7 Nilai Filosofis Bentuk Riasan Paes Pengantin Wanita Jawa

5 Makna Riasan Pengantin Adat Solo Putri, Sarat Makna Filosofis!

Seperti yang diketahui, pernikahan adat selalu sarat makna, tidak terkecuali pada pernikahan Jawa. Hampir semuanya sarat akan makna, salah satunya hiasan di dahi atau paes. Yang menarik, paes di dahi ini memiliki tekstur cair yang tidak meleleh, tetapi tidak kering. Ternyata ada beragam makna sakral yang sarat akan doa yang dimiliki riasan paes pada pengantin Jawa. Lalu apa saja makna dari setiap riasan paes pengantin Jawa? 

Berbicara tentang pernikahan adat Jawa Tengah, paes merupakan salah satu elemen penting yang tidak boleh terlewatkan. Jika kamu belum tahu paes itu apa? Paes adalah riasan untuk pengantin wanita Jawa yang memenuhi area dahi dan rambut.

Biasanya paes dibuat menggunakan pidih (lilin) berwarna hitam, terkecuali paes basahan Solo yang berwarna hijau. Tetapi kini, para perias modern lebih memilih menggunakan eyeliner yang tentunya lebih aman di kulit.

Ternyata paes tidak hanya sekedar riasan saja, tetapi juga memiliki nilai filosofis pada setiap bentuknya yang menggambarkan pondasi pernikahan. Berikut dibawah ini penjelasan nilai filosofis dari setiap bentuk riasan paes pada pengantin wanita Jawa :

  • Gajahan Atau Panunggul

Gajahan atau panunggul mengambil bentuk gunung serta melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa tunggal). Bentuk riasan ini mewakili sebuah harapan jika seorang perempuan itu akan ditinggikan kehormatan dan derajatnya saat dia menikah.

Bentuk lekukan pada paes basahan dan paes putri Solo lebih besar, sedangkan pada paes ageng lebih ramping. Sementara pada paes putri Yogyakarta, ujungnya lebih runcing.

  • Pengapit

Pengapit adalah dua buah bentuk lekukan yang runcing pada samping kiri dan kanan gajahan. Bentuk lekukan runcing ini diibaratkan sebagai pengendali gajahan. Artinya, meski dalam rumah tangga banyak rintangan, tetapi diharapkan nantinya pengantin selalu berjalan mulus sesuai tujuannya yang mulia.

  • Penitis

Disebelah pengapit ada penitis sebuah lekukan yang tidak runcing dan tidak sebesar gajahan. Bentuk ini melambangkan bahwa segala sesuatu itu harus memiliki tujuan dan dijalankan secara efektif, termasuk urusan mengelola keuangan keluarga.

  • Citak

Bentuk citak seperti berlian yang digambarkan di dahi dan diantara alis. Bentuk ini merefleksikan mata Dewa Siwa sebagai pusat ide dan pikiran. Citak mewakili harapan seorang pengantin perempuan yang cerdas, cemerlang, juga berakhlak baik. Bentuk ini diaplikasikan pada semua jenis paes, terkecuali paes putri Solo.

  • Godheg

Di dekat telinga pengantin perempuan akan dibubuhi godheg yaitu paes berbentuk lekukan kecil. Godheg yang melambangkan kebijaksaan ini adalah sebuah pengingat bagi calon pengantin untuk selalu intropeksi diri, dan sebuah doa supaya pengantin diberi keturunan.

  • Alis Menjangan

Pada pengantin Jawa-Solo, umumnya pengantin perempuannya itu memakai alis berbentuk  menyerupai tanduk rusa atau menjangan. Harapannya, seorang perempuan bisa menyerupai sifat rusa yang cerdis, cerdas, serta anggun.

  • Cundhuk Mentul

Riasan paes ini terletak di bagian kepala belakang yang ditusukkan di rambut. Saat pengantinnya bergerak, riasan yang berjumlah ganjil ini juga akan ikut bergerak gerak memantul mantul. Harapannya, nanti kehidupan rumah tangga pengantin tersebut akan selalu cerah seperti sinar matahari.

Itulah arti paes pengantin jawa dari setiap bentuk riasan. Ternyata   bentuk riasan paes berwarna hitam di dahi pengantin Jawa tidak hanya sekedar hiasan saja, tetapi juga memiliki doa doa penuh kebaikan untuk kedua mempelai sebelum mereka mengarungi kehidupan berumah tangga. Semoga apa yang dimaksud nantinya benar benar terwujud untuk para pengantin.