Inovasi Guru Hadapi Anak Milenial

dok.foto: beritainspirasi.info/ Dwi Reno Boedihartati bersama Para SIswa
Traffic Exchange

SAMARINDA – Belum puas deh rasa nya bicara soal generasi milenial, klimaks nya masih panjang. Selain orang tua dan anak generasi milenial, ada satu peran yang penting juga di jalannya generasi ini. Dia kayak kiper sepak bola yang jadi kapten di tengah pertandingan yang sedang berlansung.

Selain mengatur kesebelasan untuk menang, ia juga memastikan untuk tidak kalah karna gawang yang dia jaga kebobolan. Guru, profesi yang di samakan dengan pahlawan, bedanya tanpa tanda jasa. Pengabdian jadi iman di profesi nya.

Sekolah sering di istilahkan rumah kedua bagi anak berstatus siswa, nah dimulai dari sini kita bicara Guru, anak milenial, dan teknologi.

Peneliti sosiologi pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Anggi Afriansyah, pernah bilang. “Generasi millenial lahir di saat pesatnya perkembangan teknologi. Hal ini membuat mereka terbiasa hidup serba cepat dan tak mau bertele-tele.”

Di sisi lain, guru yang mendidik di sekolah merupakan generasi sebelumnya yang masih berpikir secara terstruktur dan bertahap.

“Menghadapi cepatnya informasi, siswa harus cakap literasi supaya tidak terpengaruh hoax. Gerakan literasi sekolah menjadi kegiatan yang harus diteruskan,” Ini kata Anggi 2017 lalu.

Sampai disini, guru di harap menjadi filter para siswa dalam menerima kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Tapi untuk menjadi filter, guru juga mesti paham dan terfasilitasi. Karena memfilter kecenderungan kognitif/pengetahuan dari arus informatif milenial, mesti sistemik kerjanya.

Coba kita periksa, cara guru sekarang memfilter siswa didik nya. Disini saya hadirkan seorang guru Sekolah Dasar (SD) di Kota Samarinda. 2016 lalu Ia berhasil menjadi Guru berprestasi 2. Sekarang aktif mengajar siswa kelas 5, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 009, Loa Janan Ilir. Ya sekitar 20 kilometer dari pusat Kota. Dwi Reno Boedihartati, begitu nama lengkap guru bergelar Magister Pendidikan ini.

Selama Ngobrol-ngobrol, saya yang mengenal Ibu guru ini sejak masa kuliah (sekitar 12 tahun lalu) di buat takjub upaya nya berinovasi dalam mendidik siswa. Ia sadar kalau siswa-siswi nya sekarang, generasi yang lekat dengan teknologi.

Selain bermodalkan buku sesuai kurikulum negara. Ia membiasakan diri menggunakan laptop, proyektor serta handphone pribadi milik nya, sebagai fasilitas untuk menunjang proses belajar mengajar. Teknologi yang iya pakai terbatas ketersediaan nya di sekolah.

Iya mengakrabkan siswa-wi didiknya dengan teknologi dan akses internet, di mulai dengan mendokumentasikan foto-video kegiatan belajar mengajar yang di upload ke akun media sosial Facebook dan Youtube milik nya. Secara tidak langsung iya menunjukan penggunaan positif untuk Handphone dan media sosial.

“Biasa nya pelajaran PKN, IPS, menggambar dan bernyanyi, kalau ada yang bagus saya upload, dari situ anak-anak senang, karena dapat pengakuan dari banyak orang di media sosial,” kata ibu Dwi Reno.

Terlihat sederhana, tapi secara psikologi ini membangun karakter positif terhadap anak didik. “Dengan begitu anak merasa dihargai dengan kemampuannya, semacam apresiasi dari guru,” sebut momy Dwi sapaan akrab saya ke guru ini.

Selanjutnya inovasi lain juga iya lakukan, meski tidak tercantum dalam kurikulum sekolah. Kali ini iya mengenalkan situs-situs edukasi sebagai refrensi belajar siswa-wi. Biasa di lakukan untuk mata pelajaran tertentu, misal ‘Sejarah Perjuangan Indonesia’.

Untuk urusan begini momy Dwi biasa membagi siswa-wi menjadi beberapa kelompok belajar, sebelum kelas berakhir Ia memberikan beberapa situs yang harus di akses murid nya untuk bahan belajar esok.

“Sejarah perjuangan dari masa penjajahan, proklamasi, hingga tokoh-tokoh nya. Anak-anak saya kasih refrensi web untuk di pelajari. Dan sebagai bahan belajar besoknya di ruang kelas.” jelas momy Dwi Reno yang sedang persiapan launching buku pertamanya bulan depan, judul buku yang Ia tulis ‘Di Balik Suksesmu Nak’.

Dengan pola reguler mengenal web edukasi seperti itu, anak murid akan terbiasa berselancar di internet dengan situs-situs positif berbasis edukasi.

Saking ulet mental mendidik di dirinya, hampir semua siswa-wi yang memiliki akun media sosial, momy Dwi jadikan teman di media sosial miliknya. Status pertemanan media sosial menjadi penghubung sekaligus memonitor aktivitas para murid di medsos. Tak segan Ia terkadang menegur dan memperingatkan anak murid nya yang coba-coba nakal di medsos.

“Kalau dimedia sosial itu mereka saya jadikan teman, jadi saya bisa kontrol kapan waktu mereka online, jadi kalau mereka online melebihi jam 10 biasanya saya tegur.” ucap perempuan kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur.

Pernah suatu hari iya mendapati anak murid menggunakan vaping (rokok elektrik) dan di upload di medsos, lantas Ia capture (tangkap layar). Esok nya siswa-wi tersebut di panggil beserta orang tua siswa-wi untuk beri wejangan.

Itu sederet upaya yang di lakukan ibu dua orang anak ini, Dwi Reno Boedihartati. Namun Iya sadar, segala upaya yang dilakukan tersebut punya keterbatasan. Baik fasilitas mengajar, sistem kurikulum penggunaan internet yang belum ada untuk siswa-wi, serta peran orang tua yang lebih banyak beraktivitas langsung dengan anak-anak mereka. (Red)

Facebook Comments