Pertamina Tidak Akui Kelangkaan, Wawali Instruksikan Pol PP dan Dinas Perdagangan Telusuri Lapangan

SAMARINDA – Empat belas Agen Gas Elpiji 3Kg di Samarinda serasa tidak cukup melayani kebutuhan konsumen. Melalui 391 pangkalan yang di tangani agen, 773.160 tabung terdistribusi di bulan Juli dan jumlahnya pun meningkat untuk distribusi di bulan Agustus sebanyak 740.880 tabung.

Hasil distribusi ini di sampaikan saat rapat Evaluasi hasil survey (11/9/17), yang melibatkan pihak Pertamina, Agen, serta Distributor. Rapat tersebut langsung di pimpin oleh Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail.

Pihak pertamina menjelaskan dalam kurun waktu 10 hari ini di bulan September minggu pertama, ada ektra tabung sebanyak 46 ribu untuk operasi pasar. Untuk yang reguler saja ada 293 tabung. Ini sudah 40 % distribusi dari target 1 bulannya.

Sehingga dari proses distribusi tidak menunjukkan ada nya kelangkaan. Namun dalam rapat pemetaan dari agen, pangkalan hingga konsumen ada temuan. Pihak pangkalan menjelaskan ada pengurangan yang di lakukan oleh agen. Sesuai kontrak mestinya pangkalan mendapatkan 10 kali suplai, namun ini hanya 8 hingga 7 kali saja.

Menurut Wawali “Operasi pasar itu sifat nya terbatas, di situ juga kadang ada distorsinya, pengecer yang datang antri berulang kali misal. Terkait kontrak suplai ini agen harus konsisten lah, kan sudah ada kontrak.” ujar Nusyirwan

Pertamina menjelaskan bahwa pihak nya sudah mempunyai metode arah distribusi, melalui Ikatan Pembinaan Pertamina, agen dan pangkalan berkewajiban menerapkan dan mengkontrol 3 sasaran distribusi. 1 tabung untuk rumah tangga, 2 tabung untuk usaha micro, 3 tabung ke pengecer. Walaupun kenyataan nya masih saja kesenjangan harga masih trus terjadi. Seperti yang terjadi di loabakung pertabung nya tembus 30 – 35 ribu rupiah.

Dalam rapat tersebut Wawali mendapat laporan bahwa, ada oknum yang memborong pasokan tabung di toko hingga warung klontongan di gang dengan harga tinggi, kemudian menjual nya kembali dengan harga tidak terkontrol. Selain itu ada juga restoran mie yang menumpuk 60 tabung Elpiji 3Kg dan Warung pecel skala besar yang menggunakan 8 tabung elpiji 3Kg perharinya.

Menyikapi hal tersebut Nusyirwan meminta Polisi Pamong Praja bekerja sama dengan pihak Polresta Samarinda, untuk melakukan penelusuran lapangan lebih lanjut. “jika terbukti benar laporan tersebut, terkait spekulasi pasar dan harga ini akan berurusan langsung dengan pihak kepolisian. Dan untuk usaha kuliner yang berskala besar dan terbukti menimbul dan menggunakan tabung subsidi akan kami cek administrasinya, jika trus terulang akan kami cabut izin usahanya.” Tegas Pak Nus.

Wawali juga menghimbau untuk rumah makan berskala besar, untuk tidak menggunakan tabung gas yang bersubsidi, karena ini hak rakyat yang kurang mampu.

Pemerintah kota juga memperingatkan Pertamina Samarinda untuk mengkaji pasokan tabung gas subsidi tersebut. “Pertamina Samarinda ini menangani 6 Kota/Kabupaten yang ada di Kaltim; Kutai Timur, Bontang, Kutai Barat, Mahulu, Kutai Kartanegara serta Samarinda. Jangan sampai kelangkaan di Kota/Kabupaten lain berdampak ke Kota Samarinda.” Tegas Nusyirwan

Iya pun berpesan untuk harga jual eceran tidak jauh dari HET yang sudah di atur oleh Perwali Samarinda. “Dari Perwali kan 16 ribu, jangan terlalu jauh lah, kalau bisa maksimal nya 20 ribu rupiah.” Tutup nya. (Arm)

 

Facebook Comments