“Perempuan Melek Politik, Melek Ekonomi” FORSOP Kaltim

Samarinda – kesetaraan dan keadilan gender merupakan komitmen yang disepakati negara-negara anggota PBB, sebagai tujuan pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) atau MDGs dan dilanjutkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) pembangunan berkelanjutan.

Hal ini di sepakati kurang lebih 193 kepala negara yang hadir dalam sidang umum PBB di New york, Amerika Serikat (25/9/15) lalu. Indonesia sendiri ikut mengesahkan oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla.

Di Indonesia komitmen ini pun tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015- 2019. Sasaran pembangunan perspektif gender ini melalui peningkatan kualitas hidup perempuan, peningkatan peran perempuan di berbagai bidang kehidupan, pengintegrasian perspektif gender di semua tahapan pembangunan, dari pusat hingga daerah.

Untuk memuluskan semangat kesetaraan gender, Indonesia harus serius meningkatkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) dengan menekan angka Indeks Ketimpangan Gender (IKG). Yang menurut hasil laporan Human Development Report (HRD) 2015, angka ketimpangan IKG Indonesia lebih tinggi ketimbang dunia.

Lemah nya partisipasi perempuan dalam politik dan ekonomi, menjadi kecenderungan ketimpangan pemberdayaan gender di Indonesia. Bisa di lihat dari keterwakilan perempuan di parlemen, serta kepala-kepala daerah dan terlibatnya perempuan dalam pembangunan ekonomi.

Situasi ini yang memberikan semangat Priskilla Evalianita Randabunga dan rekan-rekannya, mendirikan Forum Solidaritas Perempuan (FORSOP) Kalimantan Timur. Mengumpulkan dan mengorganisasikan perempuan usia produktif, guna memberdaya untuk meningkatkan kapasitas produktif perempuan di ruang poltik dan pembangunan ekonomi, menjadi fokus organisasi perempuan ini.

Moment hari Kartini (21/4/17) lalu menjadi waktu berdiri nya organisasi perempuan berlambang hati di sisipi sayap ini.

Saat berbincang dengan beritainspirasi.info, Eva sapaan akrab Ketua Forsop kaltim menjelaskan “Semangat kita ini ingin membawa perempuan terlibat langsung dalam pembangunan di kaltim. Selain membantu pemerintah meningkatkan angka partisipasi perempuan, kita juga mendorong perempuan – perempuan untuk melek politik dan financial.” Ujar Eva

Menurutnya, Kalimantan timur harus terus meningkatkan ruang kesetaraan gendernya, tidak seperti sekarang proporsi anggaran APBD Kaltim sangat kecil alokasi nya untuk pemberdayaan perempuan. Sehingga tidak mendukung tumbuh berkembangnya keterlibatan langsung perempuan dalam pembangunan ekonomi di Kaltim.

Selain itu, tingkat perceraian yang terus meningkat akibat lemahnya perekonomian,  membuat Eva ibu 2 orang anak ini perihatin. “Seperti Balikpapan dan Samarinda hingga ribuan kasus perceraian yang ditangani oleh pengadilan agama setempat. Hampir semua di sebabkan ekonomi dan KDRT. Ini kan bahaya, siklus perkembangan masyarakat akan terganggu dan makin memperburuk daya beli masyarakat” pungkas Eva di tengah kesibukan nya mengatur jadwal dokter gigi untuk anaknya saat di temuin beritainspirasi.info (4/9/17).

Memberikan pelatihan dan pendampingan mengelola ekonomi rumah tangga, serta membangun usaha di tingkat rumah tangga menjadi upaya yang dilakukan Forsop Kaltim untuk mengurangi angka perceraian yang trus bertambah di Kaltim.

Eva menutur kan “memberikan ruang belajar kelola ekonomi dan membangun usaha di tingkat rumah tangga ini, merupakan pemberdayaan perempuan untuk melek finasial. Dengan begitu mereka bisa membangun lingkungan sehat, dan meningkatkan daya beli masyarakat hingga mampu menekan inflasi.”

Organisasi dengan lambang berwarna Ungu sebagai dasarnya ini, menyiapkan konsultasi dan pendampingan profesional kepada perempuan rumah tangga dan wirausaha. “Kami sudah bekerja sama dengan beberapa akademisi dari Unmul khusus nya studi ekonomi, dan pengusaha sukses lainnya untuk mendampingi kelola keuangan rumah tangga dan menghitung profit bisnis agar tidak rugi.” pungkas Eva

Perempuan berzodiak Libra ini, yakin ketika akses ekonomi bisa dibangun hingga tingkat rumah tangga, mampu meningkatkan ketimpangan gender di bidang ekonomi. “seperti yang dilakukan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, yang membangun kelompok usaha bersama dengan koperasi kelompok perempuan.” tandas Priskilla Evalianita

Perempuan Kelahiran Ujung Pandang ini, menegaskan “ Untuk mensukseskan itu semua, sangat butuh sensitifitas gender setara yang kuat dalam merumuskan pembangunan di Kaltim, kepala Daerah nya harus sangat mengerti potensi produktif pada perempuan-perempuan di 10 Kota/Kabupaten yang ada.” tegas nya

Menurut Eva, ini bukan persoalan keberpihakan gender, dalam perjuangan kesetaraan perempuan ini harus nya memang di pimpin oleh perempuan. Karena secara politik ia mewakili kaum nya perempuan dan secara psikologi kepekaan hati membuat program itu bisa lebih mengena ke masyarakat.

Selain menjalankan program pemberdayaan, Perempuan-perempuan di Forum Solidaritas Perempuan (FORSOP) ini juga mengintervensi pemilihan Gubernur Kaltim 2018. Menurut mereka ini adalah peluang untuk perempuan Kaltim menyeimbangkan kontribusi pembangunan melalui politik elektoral.

Tentunya pilihan dukungan mereka jatuh ke figur perempuan yang muncul dalam kontestasi Pilgub Kaltim 2018 nanti. “Rita Widyasari ini figur pemimpin perempuan di kaltim, bahkan calon Gubernur perempuan pertama di pemilihan Gubernur Kaltim.” Sahut Eva ketika di tanya siapa calon mereka.

“Untuk membangun Kalimantan Timur ramah perempuan, figur yang memiliki karakter sosial premier seperti Rita Widyasari, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Kutai Kartanegara dan Ketua DPD Golkar Kaltim. Sangat potensi untuk menjadi Gubernur Kaltim Selanjutnya.” Tutup Eva (Kub)

Facebook Comments