Kaltim Akan Jauh Dari Swasembada Pangan

Beritainspirasi.infoSamarinda, Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) menggelar diskusi Hungry Coal (Kecanduan Batubara) Bertempat di Cafe Bagio’s  Jl. Basuki Rahmat Samarinda, . Acara ini  Bertemakan , “Pertambangan Batubara Keempat terbesar didunia dan pengekspor Batubara Termal terbesar didunia”. Jatam mengundang Paul Winn salah satu peneliti asal Amerika Serikat untuk jadi pembicara. Paul Winn sendiri sebagai konsultan Internasional (Energy Campaigner  Consultant). Bekerjasama dengan Jatam Kaltim, Wateekeeper Alliance melakukan riset dengan sampel pada tiga daerah yakni Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), dan Kutai Timur (Kutim) sepanjang 2015 hingga 2017 kini. Mereka mengambil 17 sampel air dari 8 situs tambang batu bara yang ada di tiga derah tersebut.

Kementrian ESDM 2017 berisi Ijin Tambang sebanyak 8.710 iup tambang, 1 IUP saja sama berproduksi sudah menghasilkan  dengan 3 lumbang Tambang, pertambangan akan meninggalkan 26.130 lubang tambang. Hal ini akan sangat banyak pengaruh akibat pertambangan dikaltim, dan dampak tersebut mengakibatkan pencemaran kadar logam berat, yang mempengaruhi pangan.

“Pada Tahun 2015 memproduksi 469,3 juta ton batubara, dan pada tahun 2015 juga 78,5% jadi Pengekspor batubara termal terbesar didunia”.

Saat pemaparan, Paul selaku pembicara  memaparkan data serta dampak akibat pertambangan batubara.

Dari 17 sampel air yang diambil dari tambang-tambang batu bara beserta jalur air di sekelilingnya, 15 di antaranya mengandung logam berat dan tingkat PH yang berdaya rusak terhadap produksi pangan dan budi daya ikan.  Paull Winn Mengatakan baru setahun ini melakukan penelitian terkhususnya dikaltim bersama Jatam, juga Berdasarkan penelitian bahwa hasil dari pertanian terjadi kehilangan 1,7 ton pertahun, dan hingga kini 7,7 ton juga lenyap tiap tahun akibat tambang, setara dengan 6 kali angka impor beras Indonesia tiap tahun. Karena itu, Jika 18 juta hektar lahan yang dikuasai pertambangan itu dikembalikan pada pertanian maka menghasilkan 50 juta tondan itu cukup hingga 2025 nantinya.tidak hanya air, sambung Paul Winn, bahwa  hasil penelitian tersebut mengatakan bahwa produksi beras di indonesia akan terancam akibat  pertambangan , dan tahun 2025 kemungkinan Indonesia akan memproduksi  5% saja.  Padahal ada beberapa Wilayah yang berpotensi bercocok tanam diluar Pulau Jawa yaitu Kaltim, Kalteng, Riau, Sumsel. beberapa daerah tersebut kini  jadi terancam pertambangan batubara.

Akibatnya Pertambangan terbukti menghancurkan pangan bagi lebih kurang 3,4 juta jiwa penduduk. Kondisi ini diperparah dengan konsesi pertambangan yang mencapai 5,3 juta hektare atau hampir separuh dari total luas wilayah Kaltim keseluruhan yakni 12,5 hektare. Sementara alokasi lahan untuk pangan dari 2016 sampai 2035 hanya seluas 460.346 hektare alias sangat jauh di bawah luas konsesi tambang batu bara. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka jangan pernah berharap Kaltim akan mewujudkan swasembada pangan.

Ya paling tidak, harus ada aturan  yang melindungi pangan akibat batubara, hasil paparan Paul Winn saat siang tadi. Ujar Peneliti WaterKeeper  Aliance di diskusi Hungry coal

 “Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus bersikap terhadap kondisi ini. Jangan lagi ada izin tambang batu bara dan harus ada ketegasan untuk mencabut izin usaha pertambangan yang ada saat ini,” tambah tambah Ketut Divisi Hukum dan Advokasi Jatam.

Nah, Potret kehancuran  dari pertambangan batubara dapat dilihat dari 3 wilayah yang menjadi lokasi riset yang berfokus di kali ini. Dari hasil penelitian yang bertempat di samarinda, kita mengambil paparan Pak Baharuddin (58 tahun) petani dan peternak ikan sejak tahun 2000 tinggal di Makroman,  Samarinda. 7 tahun sebelum CV. Arjuna menambang di Makroman pemasukannya mencapai 150 juta / tahun sedangkan saat ini ia hanya mendapatkan 20 juta/tahun karena sumber air yang baik bagi ikannya hilang dan ia mengganti dengan air yang berasal dari air lumbang tambang milik CV. Arjuna. Contoh lainnya adalah juga terjadi pada pak Abba yang berhadapan dengan CV limbuh yang menghancurkan irigasi pengairannya bagi 100 rumah tangga petani padi yang sudah ada 25 tahun bertani yang bisa menghasilkan 4 ton paling sedikit setiap tahunnya, namun ketika CV. Limbuh menambang di hulu pertanian mereka maka tidak lebih 2 ton per tahun dan hanya 4 keluarga petani yang bertahan untuk menjadi petani hingga saat ini.

“Oleh karena itu, hal yang paling mungkin dilakukan untuk menghindari kehancuran pangan bagi Kalimantan Timur adalah pertambangan Batubara pasca operasi produksi harus melakukan reklamasi sesuai Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pasca Tambang pada kegiatan Usaha Mineral dan Batubara pasal 12. Selain itu, Pemerintah Kalimantan Timur dalam hal ini Gubernur  harus segera mencabut seluruh izin pertambangan Batubara yang ada si Kaltim dan memperluas wilayah pertanian dan budidaya perikanan, Alokasi ini,l dirasa masuk akan untuk menghindari defisit pangan di masa depan.  Tambah Ketut Hasil Riset “Batubara Menghancurkan Pangan Kita”.(Arm)

Facebook Comments